Categories
Uncategorized

Berbagi Kambing Peranakan Gulirkan Kesejahteraan

Kambing Peranakan Menghadirkan Kesejahteraan

Ketika matahari tepat berada di atas kepala, Muniah (50) pulang ke rumahnya di Dusun Kreong, Kelurahan Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah. Ia membawa hijauan pakan ternak. Selain rumput, Muniah mengambil dedaunan dari ranting hutan bakau yang letaknya hanya beberapa jengkal dari tempat tinggalnya.

“Rumput sudah pasti, tetapi saya juga membawa daun dari hutan bakau. Saya sangat membutuhkan daun-daun dari hutan bakau untuk pakan ternak kambing yang kami miliki. Tetapi yang paling utama masih tetap rumput. Untuk daun dari hutan bakau kami batasi, jangan sampai pohon mangrove mati. Sebab, kalau mati kami bakal merugi karena tidak mendapatkan dedaunan lagi. Pantang juga bagi kami untuk menebangnya, agar tetap dapat memperoleh hijauan pakan ternak,” ungkap Muniah.

Selepas sampai rumah, Muniah segera menuju bagian samping. Ada bangunan dari kayu yang memanjang sebagai kandang kambing. Jenis kambingnya, peranakan etawa (PE) dan jawa randu. Kambing-kambing di kandang itu tidak hanya milik Muniah, sebagian lainnya merupakan bantuan CSR Pertamina Depot LPG Cilacap Marketing Operation Region (MOR) IV Jateng-DIY.

“Sekitar empat tahun lalu, warga di sini mulai mengembangkan kambing PE yang merupakan bantuan dari Pertamina,” jelasnya.

Kelompok Tani

Ketua Kelompok Tani Ternak Mitra Karya Usaha, Marsikin, mengatakan pada tahun 2015, Pertamina Depot LPG Cilacap bersama tim Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) datang ke Dusun Kreong menawarkan bantuan kambing PE.

Tidak hanya itu, mereka juga melatih warga untuk membuat pakan silase atau hijauan yang disimpan dalam tempat kedap udara sebagai proses fermentasi serta pembuatan pupuk kandang. Awalnya, kami dibantu 22 ekor kambing untuk 10 anggota kelompok. Tetapi dalam masa adaptasi mati dua, tersisa 20 ekor,” cerita Marsikin.

Namun, perkembangan tiga tahun terakhir ini menggembirakan, jumlah kambing bertambah menjadi lebih dari 50 ekor. Pun anggota tani ternak yang semula hanya 10 orang, kini menjadi 18 orang. Marsikin menyebut semakin banyak kambing berkembang biak maka akan meningkatkan jumlah anggota kelompok.

Marsikin pun menceritakan terkait perjanjian awal penerimaan bantuan kambing PE. Jika menerima dua ekor kambing betina maka harus mengembalikan tiga ekor. Namun, jika menerima satu kambing betina, dan satu kambing jantan, penerima bantuan harus mengembalikan dua ekor kambing.

“Berbeda dengan sistem ‘gaduh’, kambing dikembalikan kepada pemberi bantuan. Namun karena menggunakan dana CSR, maka kambing hasil peranakan diberikan kepada warga lainnya. Sistemnya bergulir, begitu seterusnya,” jelas Marsikin.

Budidaya Kambing PE

Dengan adanya budidaya kambing PE, Marsikin meyakini adanya peningkatan kesejahteraan pada warga. Prosesnya memang tidak mudah, harus telaten, karena untuk memelihara kambing sampai dewasa membutuhkan waktu 1-1,5 tahun. Soal harga, Marsikin mengatakan kambing PE mencapai Rp2 juta per ekor sementara jawa randu sekitar Rp1,3 juta per ekor. “Ini merupakan awal, masih terus akan dikembangkan dan mudah-mudahan ke depannya akan semakin banyak populasinya,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Marsikin, pihaknya juga membuat pupuk kompos berbahan baku kotoran kambing, kotoran ayam dan sisa pakan. Dalam enam bulan terakhir, Marsikin dan teman-teman mampu memproduksi hingga dua ton pupuk kandang.

“Memang pemasarannya masih kurang, tetapi kami tidak patah semangat untuk terus mencoba menembus pasar. Sekarang, harga jual pupuk kompos tersebut Rp2.000 per kilogram (kg). Lumayan untuk menambah pendapatan selain dari pembesaran kambing,” tukasnya.

Tak hanya pupuk kompos dari kotoran ternak, pihaknya juga berencana memerah susu kambing PE meskipun hingga kini masih kesulitan melakukan hal tersebut.

Marsikin tak hanya bercerita tentang diversifikasi produk tetapi juga contoh sukses dari anggotanya. Ia menyebut tiga nama, yakni Nur Gito, Sunarto, dan Sutirah. Ketiganya telah mampu mengembalikan kambing sesuai perjanjian sehingga dinyatakan lunas.

“Kambing-kambing itulah yang kemudian diberikan kepada warga lainnya. Jadi, ketika diberi kambing, mereka akan masuk kelompok. Kami berharap, perkembangbiakan kambing akan semakin banyak, sehingga nantinya akan menjangkau seluruh warga yang ada di Dusun Kreong,” imbuhnya.

Sementara itu, pendamping Kelompok Tani Ternak Mitra Karya Usaha, Masrukin, mengatakan pihaknya digandeng Pertamina Depot LPG Cilacap untuk melakukan social mapping dengan melakukan penelitian sosial. Ia pun menyebut pemilihan Dusun Kreong lantaran diketahui sebagai wilayah tertinggal dibandingkan dusun lainnya di Tritih Kulon.

“Nah, akhirnya terpilihlah Dusun Kreong yang istilahnya orang di sini ‘ketriwal’ (tercecer). Apalagi, lokasinya terletak persis di pinggir hutan mangrove. Di sinilah dimulai pemberdayaan dengan memberikan kambing PE dan pelatihan-pelatihan pada 2015-2016,” jelas Masrukin yang juga Dosen Fisip Unsoed Purwokerto tersebut.

Meskipun warga Dusun Kreong rata-rata merupakan keluarga prasejahtera, tetapi punya potensi sebagai pembudidaya ternak khususnya kambing. Sebelum program CSR masuk, warga sudah memelihara kambing dengan sistem bagi hasil ketika kambing beranak.

“Setelah kami bersama Pertamina masuk, mereka sangat menerima. Warga tetap wajib mengembalikan kambing, tetapi kambingnya dibagikan kepada penduduk lain yang belum menjadi anggota kelompok,” jelasnya.

Populasi Kambing Meningkat

Berdasarkan hasil monitoring evaluasi (monev) tahun 2018, populasi kambing yang ada di Dusun Kreong semakin meningkat. Masrukin menginformasikan dari hasil monev terakhir, jumlah populasi kambing mnejadi 38 ekor. Yang jelas, populasi kambing yang semakin meningkat otomatis warga yang mendapatkan kambing pun semakin banyak.

“Di sisi lain, pengetahuan dan keterampilan mereka juga meningkat, karena dapat membuat pakan silase maupun pupuk kompos. Inilah tambahan kemampuan yang mereka miliki. Sebetulnya, masyarakat juga diminta memerah susu dari kambing khususnya PE, tetapi belum optimal. Masih butuh proses, karena rata-rata mereka berangkat dari pembudidaya kambing pembesaran,” pungkasnya.